Kembalinya Ahli Waris Tahta Kesultanan Jailolo – part II

Kesultanan Jailolo adalah kesultanan yang tertua di Negeri Jaziratul Mulqiah Moloku Kie Raha

Dimasa lampau, Kesultanan ini dikenal dengan sebutan legendarisnya yaitu Gilolo.

Berdasarkan catatan sejarah melalui naskah-naskah kuno, berakhirnya eksistensi kesultanan jailolo fase I antara tahun 1518 -1533 dengan Penguasa terakhir yaitu Kaicil Yusuf.

Berakhirnya dinasti jailolo ini akibat terpaan hegamoni serta konflik internal yang melanda pada saat itu.

The King of Gilolo : Dom Kata Bruno juga dikenal dengan sebutan lokal yaitu Kolano Katarabumi/Katrabun adalah aktor utama runtuhnya dinasti gilolo dimasa itu, dengan ambisi dan haus kekuasaan serta mendapat dukungan penjajah portugis dia berhasil menggulingkan kekuasaan Sah Kaicil Yusuf di usia senjanya sekaligus berhasil membunuh (meracuni) Sultan Muda kesultanan jailolo yaitu Kaicil Fairuz Alauddin.

Maka di akhir hayat Sailillah Kaicil yusuf, sang sultan harus terbuang dari negerinya sendiri dan terpaksa menutup diri dan berkelana di sepanjang pulau gilolo yang sekarang di kenal dengan sebutan Halmahera. Hal ini di jalaninya untuk menghindari maut yang setiap saat membayanginya.

Kaicil Yusuf mempunyai 3 orang anak yaitu 1 orang putri dan 2 orang putra. Tertua dari ketiga bersaudara ini adalah perempuan, ia dinikahkan dengan seorang Pangeran dari Kesultanan Tenate yang juga berhasil menjadi Sultan Ternate yaitu Kolano Tabaridji. Pernikahnya itu bertujuan untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan sekaligus untuk meredam hasrat penguasaan Negeri Gilolo oleh Kesultanan Ternate.

Sedangkan satu dari ke dua Pangeran Gilolo ini, dalam rekam jejak sejarah diketahui bernama Kaicil Fairuz Alauddin.

Beliau diangkat menjadi sultan muda untuk melanjutkan tahta kesultanan jailolo, namun harapan itu akhirnya pupus dikala sang penerus tahta harus menghembuskan nafas terakhirnya akibat di racun dan selanjutnya saudaranya yang ke tiga adalah si bungsu (……….) mengalami seluruh rentetan getirnya terusir bersama Ayahnya Sultan Kaicil Yusuf setelah terjadinya peristiwa kudeta.

Dari trah putra bungsu inilah yang kemudian melahirkan para datuk-datuk Sultan Jailolo yang mulai bertahta sejak tahun 2015, yaitu Sultan Al-Hajj Kaicil Muhammad Shiddiq Shah sebagaimana runtutan warisan naskah silsilah keturunan sultan jailolo (bukan salinan).

Setelah pergolakan hebat yang terjadi di kesultanan jailolo maka sultan beserta banni sultana menyelamatkan diri meninggalkan jailolo, berjalan mengelilingi sepanjang pulau halmahera dari ujung barat ke timur dan ke utara berasama masyatakat dan hulubalang yang setia mendampingi perjalan mereka.

Dengan rentetan peristiwa tragis di atas, menyebabkan keturunan sultan jailolo memilih untuk menutup diri sebagai masyarakat biasa demi keberlangsungan dan keselamatan kehidupan generasi penerusnya, sehingga menjadi mitos untuk sebagian masyarakat asli Maluku Utara bahwa keturunan sultan jailolo seluruhnya sudah gaib.

Setelah Katarabumi di tumbangkan, kesultanan jailolo memasuki fase ke II yaitu fasal penguasaan wilayah jailolo secara bergantian oleh kesultanan tidore dan kesultanan ternate.

Terhitung sejak tahun 1600an, mulailah di tempatkan para wakil-wakil sultan dari kedua kesultanan itu silih berganti mengisi kekosongan di wilayah kesultanan jailolo sampai pada akhir tahun 1800 barulah terjadi kefakuman total dan pada fase ke III. Tahun 1997, Sultan Ternate berkeinginan untuk menghidupkan kembali Pilar Kesultanan Jailolo “baca tautan sebelumnya”

Dan sampai pada tahun 2003, seorang kader golkar yang juga merupakan purnawirawan ABRI: Sdr. Dul Harjanto diangkat menjadi Wakil Sultan Ternate yang di tempatkan pada Kesultanan Jailolo. Beliau kemudian berganti nama menjadi Abdulah Haryanto dan terakhir berubah menjadi Abdulah Sjah.

Perjalanan wakil sultan ini berakhir dengan pemagzulan dirinya pada tahun 2010 berdasarkan pertimbangan dewan yudikatif klasik (tauraha) kesultanan ternate, maka terbitlah Surat Keputusan Kolano Kesultanan Ternate nomor :177/SKEP-MKR/XI/2010 tentang Pemberhentian Dengan Hormat Wakil Sultan Ternate di Kesultanan Jailolo An. Sdr. Abdulah Sjah (nonaktif).

Namaun yang bersangkutan terus melakukan upaya untuk mempertahankan posisinya sebagai Sultan Jailolo didukung oleh beberapa orang perangkatnya.

Oleh mereka bahwa “tak ada sultan yang dipecat/berhentikan oleh sultan lainnya”, namun pada kenyataannya jika di tilik dari awal keberadaannya sampai akhir kedudukan yang bersangkutan di jailolo tak dapat di lepas pisahkan oleh Sultan Ternate H. MUDAFFAR SJAH dari Kesultanan Ternate.

Maka pada suatu kesempatan dalam penyelenggaraan Festifal Kesultanan se-Nusantara di Bulungan tahun 2011, Sultan Ternate menyatakan dengan tegas kepada seluruh Sultan yang hadir bahwa :

SAYALAH YANG MENGANGKAT SAUDARA ABDULAH SEBAGAI WAKIL SULTAN TERNATE DI JAILOLO, MAKA SAYA-LAH YANG BERHAK UNTUK MEMBERHENTIKANNYA.

Namun sampai pada tahun 2013 ketika Kedaton Kesultanan Jailolo yang di bangun dalam rangka revitalisasi oleh Kementerian Pariwasata tahun 2007 melalui Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang di selenggarakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) mendekati 80% pembangunan, Sdr. Abdulah beserta orang yang loyal melakukan penyerobotan.

Maka Sultan Ternate mengeluarkan surat pengaduan yang di tujukan kepada pihak Kepolisian Resort Halmahera Barat tentang aduan Penyerobotan, dalam surat tersebut menyebutkan dengan jelas pihak-pihak penyerobot sebagaimana isi surat dibawah ini :

Sekaligus mengangkat Sdr. Muhamad Samad sebagai Jogugu dan Sdr. Ilham Dano Toka sebagai Kapita Lau Kesultanan Jailolo untuk menjalankan roda pemerintahan kesultanan jailolo.

Dari rentan waktu pasca pemberhentian Wakil Sultan di Jailolo sejak tahun 2010 s/d 2015, polemik demi polemik terus menimpa Kesultanan Jailolo.

Hal ini membuat perangkat adat yang di tunjuk sebagaimana isi surat sultan ternate diatas mengambil langkah untuk mengakhiri polemik itu dengan cara mencari keturunan asli sultan jailolo untuk diangkat sebagai sultan definitif.

Permasalahan ini terkuak dalam dokumen/surat yang di keluarkan oleh Jogugu dan Kapita Lau Kesultanan Jailolo

1. SURAT PENGADUAN Jogugu Kesultanan Jailolo kepada Sultan Bacan, Sultan Tidore dan Perangkat Adat Kesultanan Teenate

2. MAKLUMAT yang di keluarkan oleh Perangkat Adat Kesultanan Jailolo yaitu Jogugu dan Kapita Lau dalam rangka upaya mengembalikan Zuriat Sultan Jailolo.

Dengan adanya hal-hal diatas ini maka Dewan Tradisional Kesultanan Jailolo Fala Raha melakukan RAT (Rapat Adat)

Untuk mengangkat sekaligus mengembalikan Hak Keturunan Sultan Jailolo Terdahulu maka secara mandiri, sebagai kesultanan yang otonom, Fala Raha (legislatur klasik) Kesultanan Jailolo pada tanggal 27 November 2017 menetapkan dan menobatkan Sdr. H. MUHAMMAD SIDIK, SH sebagai Sultan Jailolo ke 12 secara definitif.

Dengan Nama Kebesarannya yaitu : AS SULTAN ALMUKKARAM WALLATIIFAH MALIKUL KHALIS BULDAN JAILOLO SAYYID AL HAJJ MUHAMMAD SHIDDIQ SHAH.

Menurut catatan perjalanan tahta di Kesultanan Jailolo. RAJA atau SULTAN yang pernah bertahta sudah sebanyak 22 Orang yaitu :

Bersambung…………. part III

Iklan

Kembalinya Ahli Waris Tahta Kesultanan Jailolo

Secara umum penulisan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau menjadi sangat penting dalam pembahasan  ilmu sejarah. Melalui peristiwa, ilmu sejarah mendapat gambaran tentang kehidupan manusia di masa lampau sebagai peristiwa yang pernah terjadi dapat kita amati adalah sejarah sebagai penelaahan kisah sejarah suatu peristiwa, maksudnya peristiwa sejarah ditempatkan sebagai fakta, kejadian, dan kenyataan yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Kejadian masa lampau tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengetahui dan merekonstruksi kehidupan pada masa tersebut.

Dari peristiwa-peristiwa itu, dapat diketahui sebab akibat terjadinya suatu kejadian yang terjadi di masa lampau tanpa memandang besar kecilnya suatu peristiwa atau kejadian-kejadian yang pernah terjadi.

Untuk penulisan sajarah tradisional khususnya penulisan peristiwa yang terjadi pada masa raja-raja Islam biasanya ditulis berdasarkan petunjuk raja untuk kepentingan kerajaannya, dalam berbagai naskah sering di jumpai banyak peristiwa diantaranya berisi kehidupan politik, kehidupan sosial masyarakat, agama, dan ekonomi. Penulisan sejarah tradisional pada umumnya lebih menekankan pada beberapa hal berikut.

1.   Hanya membahas tentang aspek keturunan (genealogi saja) atau hanya diutamakan aspek kepercayaan

2.   Hanya membicarakan peristiwa tertentu yang dianggap penting

3.   Mengedepankan sejarah keturunan dari satu raja kepada raja berikutnya.

4.   Sering sejarah tradisional hanya memuat biografi tokoh-tokoh terkemuka di masa kekuasaannya.

Sedangkan untuk penulis sejarah modern yang mengungkap tentang perjalanan sejarah tradisional dengan menggunakan sandaran naskah kuno yang bersumber dari para penjajah (portogis, spanyol dan belanda) yang selanjutnya di kaitkan dengan cerita yang berkembang dalam masyarakat pada komunitas atau wilayah tertentu di harapkan agar lebih memperdalam pengkajian dan telaahannya yang luar biasa agar dapat mengurai benang merah atas suatu peristiwa masa lampau dan di sajikan sebagai catatan sejarah, mengingat menggunakan sandaran dokumen peninggalan dari penjajah banyak di sinyalir terdapat unsur kepentingan dan keberpihakan pada pengusa yang dijadikan bidak catur untuk kepentingan penjajahan. Bijaknya dalam penyajian penulisan sejarah di harapkan agar tidak terfokus pada ruang lingkup atau kepentingan tertentu.

Metode penulisan yang sepenuhnya bersandar pada referensi asing (naskah kolonial) biasa di sebut historigrafi kolonial atau sering di sebut sebagai Eropa Sentris, yang berasal dari karya-karya yang ditulis oleh para penjajah

Ciri-ciri Historiografi Kolonial :

1. Penulisan sejarahnya biasanya berisi tentang kisah perjalanan atau petualangan untuk menemukan daerah-daerah baru untuk dijadikan kolonialnya (jajahan).

2. Tulisan mereka lebih merupakan sarana propaganda untuk kepentingan mereka dan sekaligus untuk mengendurkan semangat perlawanan

3. Bersifat Belanda Sentris, kepentingan kolonial sangat mewarnai inpretasi mereka terhadap suatu peristiwa sejarah yang terjadi. Tujuan Historiografi kolonial adalah semata-mata untuk memperkokoh kekuasaan atas penjajahan

Sejarah perjalanan Kesultanan Jailolo secara utuh pada masa modern ini belum dapat terurai secara detail, artinya hal ini disebakan terdapat berbagai versi penulisan, maka penyajian secara utuh dari masa kepemimpinan Kolano/Raja/Sultan Jailolo periode pertama yang menguasai Jazirah Jailolo masih sulit untuk di ungkapkan.

Catatan  sejarawan yang dapat ditemukan dalam berbagai buku, disertasi, maupun bloger, terbatas pada pengungkapan pasca fakumnya Kesultanan Jailolo di abat ke XVI. Maka untuk itu harus diakui untuk mengungkapkannya secara utuh bukanlah sebagai hal yang mudah, karna minimnya bukti peninggalan maupun catatan masa lampau tentang kesultanan jailolo itu sendiri.

Adapun pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat sekarang ini condong pada sumber yang kontroversi untuk mengurai benang merah perjalanan kesultaman jailolo, melalui naskah kuno para penjajaha yang kemudian di rajut dengan legenda berdasarkan cerita rakyat dan selanjutnya di jadikan perpaduan untuk bahan karangan tentang perjalanan masa lampau dari sudut pandang dan sistematika penulisan masing-masing penulis untuk disajikan seakan telah sempurna menembus cerobong ruang dan waktu.

Secara pribadi, saya sendiripun sangat mengakui upaya-upaya keras dari masing-masing sejarawan dan pemerhati sejarah tradisional Maluku Utara ini, agar generasi penerus dapat mengetahui bahwa Negeri para Raja Moloku Kie Raha ini mempunyai riwayat perjalanan yang sangat panjang.

DESCRIPTIO MOLVCCARVM

 Peta Kuno tahun 1616

Khususnya untuk Kesultanan Jailolo konon mempunyai Raja pertamanya yaitu “Kolano Daradjati”. dari lembaran daftar sisilah yang skemanya diuraikan seperti pohon terbalik dan seluruh tulisan nama-nama yang tertuang didalamnya beraksara Arab.

Ternyata dalam uraian naskah kuno dari versi yang berbeda ada nama dari raja/sultan lainnya sebelum Kolano Daradjati, hal ini kemudian dapat dijadikan bukti baru dalam upaya penjejakan riwayat panjang perjalanan Kesultanan Jailolo

silsilah

 Penggalan Silsilah Sultan Jailolo

Pada Foto diatas, sengaja penulis menampilakan penggalan kecil dari daftar nama-nama Raja/Sultan Jailolo, yang apabila di amati masih terdapat penggalan huruf aksara arab lain di bawah nya yang memuat nama Raja/Sultan sebelum “Kaicil Said Darzad” (nama lengkap)  ini.

Karakter pada skema naska kuno ini pun berbeda dengan naskah yang sebelumnya sudah terlebih dahulu pernah di ekspos dengan “skema pohon terbalik” (pohon yang nampak seperti mengambang). Sedangkan pada skema penggalan foto diatas secara utuh berbentuk layaknya pohon yang normal (pohon dengan akar menancap ke perut bumi)

-Pohon dalam literature Islam-

Simbol pohon hanya memainkan peran kecil dalam Al-Qur’an itu sendiri, namun secara spiritual, seni dan arsitektur Islam, telah menjadi symbol paling berkembang, diantara mistikus telah menjelaskan beberapa pohon yang telah terintegrasi ke dalam sutu symbol yang konsisten. Kutipan (QS. 14:24-25)

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.

Dengan terungkapnya naskah silsilah ini seakan menjadi fakta baru.

Akan tetapi sebelumnya hal ini sudah pernah terungkap pada masa Sultan Ternate Alm. H. Mudaffar Sjah II yang berkeinginan untuk menghidupkan kembali pilar Kesultanan Jailolo pada tahun 1997, dari kefakumannya yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu itu, keinginan ini bertujuan untuk melengkapi kembali pilar Moloku Kie Raha (Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo). Dari gagasan itu, di hubungilah para keturunan sultan jailolo yang diketahui nya yaitu Alm. H. Mahmud bin H. Djabar bin Kaicil Abdul Rahman (ayah dari Sultan Jailolo al-Hajj Kaicil Muhammad Shiddiq Sjah) untuk di sampaikan maksud dan tujuan nya, maka sejak saat itu terjadilah pertemuan demi pertemuan untuk pembahasan.

Selanjutnya pembahasan itu berjalan dengan sangat alot, dan pada puncaknya di ajukanlah oleh pihak ahli waris sultan jailolo agar pendirian pilar Kesultanan Jailolo dilakukan secara bertahap, diawali dengan pemenuhan struktur perangkat adatnya dan keputusan ini bukanlah tak beralasan. Penulis tidak di izinkan mengungkapkannya di blog ini.

foto empat sultan

 Foto Empat Sultan (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan)

Melalui perundingan dan mekanisme yang memakan waktu, termasuk mengurai (merunut) garis keturunan dari sumber naskah tersebut di atas. maka pada akhirnya keputusan itu di sepakati bersama, selanjutnya rencana pelaksanaan pengukuhan perangkat adat utama kesultanan jailolo ini akan di laksanakan disertai konsilidasi dan penetapan figur-figur yang bakal menempati jabatan strategis Kesultanan Jailolo untuk menerima amanah, maka sampai pada tahun 1999 barulah persiapan pelaksanaan pengukuhan itu dilaksanakan, akan tetapi rencana ini terhenti akibat terjadi kerusuhan horizontal yang melanda Maluku Utara.

Minimnya informasi tentang keberadaan dan keterlibatan aktif para Ahli Waris Sultan Jailolo dalam kesepakatan bersama Alm. Sultan Ternate untuk mendirikan pilar kesultana jailolo ini, penulis yakini bahwa akibat minimnya budaya menulis dan minimnya sarana/prasarana media informasi yang tersedia seperti sekarang ini maka hal itu tidak terekspos secara umum untuk konsumsi masyarakat luas khususnya yang berada di Wilayah Maluku Utara.

Setelah penandatanagan Perjanjian Malino pada tanggal 12 Februari 2002 untuk mengakhiri konflik horizontal yang melanda Maluku dan Maluku Utara, Sultan Ternate kembali menegaskan maksud dan tujuannya untuk mendirikan pilar kesultanan jailolo yaitu sesuai dengan kesepakatan para ahli waris maka dilaksanakanlah prosesi pengukuhan perangkat utama kesultanan jailolo. Adapun pejabat adat yang dilantik dalam jabatan trategis kesultanan itu adalah :

1. H. Mahmud bin H. Djabar sebagai Jogugu Kesultanan Jailolo

2. Muhamad bin Samad sebagai Kapita Lau

3. ………………………sebagai Jo Hukum Jiko

4. ……………………………. sebagai Tuli Lamo.

Pelaksanaan pengukuhan ini berjalan secara khidmad di pelataran Sigi Lamo (Mesjid Sultan) Kesultanan Jailolo yang beralamat di desa Gam Lamo. https://jailolo1518.blogspot.co.id/ dan http://kerajaan-indonesia.blogspot.com

BERSAMBUNG………………
KEMBALINYA PEWARIS TAHTA KESULTANAN JAILOLO II